Adab bersosial media masa kini

0

Darfaz.com, Dunia media sosial merupakan fenomenal paling aktual dalam interaksi manusia modern saat ini. Tiada hari, jam, menit, bahkan detik tanpa bersosasialisasi dengan istilah dunia maya ini. Seperti halnya  pengguna Twitter, Facebook, Telegram, BBM, dan media sosial lainnya. Mereka yang tidak memakai piranti media sosial tersebut boleh jadi dianggap ketinggalan aman.

Sosial media merupakan suatu unit atau wadah di dunia maya yang membuat setiap pengguna dapat bertukar pesan tanpa harus membayar seperti SMS. Melalalui Media sosial semua pemakai ponsel bisa berkirim pesan satu sama lain dengan mudah dan tanpa biaya. Para pengguna Media sosial dapat membuat grup, saling bergirim gambar, serta pesan, video dan audio dalam jumlah yang tidak terbatas. Kini komunitas Media sosial membentuk suatu interaksi sosial baru yang luar biasa cepat, mudah, dan tanpa batas waktu sehingga menjadi dunia yang hidup 24 jam.
Kelebihan media sosial memang sangatlah luar biasa. Orang akan dengan mudah berkomunikasi kapan dan dimana saja dengan mudah. Infoermasi aktual pun kini akan dengan mudah tersebar luas dalam waktu sekejap. Orang meski tak berdekatan secara fisik seolah sedang berinteraksi langsung. Inilah dunia supermodern berkat alat teknologi tercanggih di abad ke-21 dalam peradaban manusia modern.
Namun dunia Media sosial juga menyiratkan sisi dan karakter lain dalam perilaku manusia. Isu yang biasa dapat mmerubah menjadi luar biasa, apalagi isu yang yang luar biasa sertamerta meluas menjadi dahsyat. Berita lama dengan mudah diposting atau dishare dalam “tempo yang sesingkat-singkatnya” seolah baru.
Orang pun dengan mudah terpancing emosinya, lalu “berkicau” apa saja. Provokasi pun dengan mudah hadir silih berganti, yang sering dinikmati oleh pelaku dan penerimanya tanpa kritis.

 

 

Ada orang yang seolah berani tidak tidur untuk terus hadir di dunia media sosial. Lepas tengah malam yang semestinya beristirahat pun  masih segar berkicau di jejaring sosial media. Boleh jadi jutaan atau milyaran manusia di planet bumi ketika jaga dari tidur yang dibuka handphone dan serta merta hadir di sosial media, sebelum kegiatan lain dilakukan.
Di kala shalat malam pun bagi umat Muslim yang rajin beribadah, tidak lepas berkomunikasi lewat dunia maya yang canggih itu. Tidak sedikit yang memnyebar pesan mengingatkan dan mengajak shalat malam, sesuatu yang tentu baik meski urusan ibadah sunnah seperti itu sesungguhnya wilayah pribadi setiap muslim. Lebih-lebih jika ajakn debarengi sedikit rasa “pamer keshalihan” selaku ahli ibadah. Shalat lail biarlah senyap dan menjadi milik pribadi setiap muslim, tak perlu dipublikasikan.
Apapun media yang dipakai, di belakang alat itu yang paling utama manusianya. Manusia sebagai pengguna, alat sehebat apapun itu merupakan alat mati. Alat bukanlah tujuan, alat boleh menjadi bagian subordinasi dari media. Manusisa harus mengambil jarak dan menggunakan maupun media sosial lain secara proporsional. manusia harus mengendalikan alat, bukan diperalat.
Insan beriman, lebi-lebih para aktifis gerakan Islam, patut menjadi teladan yang baik dan bermedia sosial. Berlaku patokan adab atau akhlak dalam menggunakan media sosial. Adab mengajarkan kepantasan. Mana yang baik dan mana yang buruk, yang patut dan yang tidak patut. Hifzu lisan atau Hifzu-kitabah juga berlaku. Jangan sembarangan, berlebihan, dan semaunya sendiri. Sosial media jangan menjadi alat provokasi, menghasut, lebih-lebih ghibah dan fitnah. Jangan pula berlebihan dalam menggunakannya, sehingga tiada batas jam dan keadaan. Instan muslim haruslah mengedepankan ihsan dalam hal apapun, temasuk dalam bermedia sosial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here